Minggu, 28 September 2014

Day 7 : Filsafat Manusia (Jiwa dan Badan)

Badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

Monisme
Monisme adalah aliran yg menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yg membentuk pribadi manusia.
Tiga bentuk aliran ini: materialisme, teori identitas dan idealisme.
- Materialisme, yaitu menempatkan materi sbg dasar bagi sgala hal yg ada (fisikalisme). Manusia juga bersumber pada materi. Manusia tidak pernah melampaui potensi jasmaninya. Jiwa tdk punya eksistensi sendiri. Jiwa bersumber dari materi. Eksistensi jiwa bersifat kronologis (hasil hub sebab akibat). Reduksi humanitas pada dimensi fisik punya implikasi negatif pada penilaian atas aktivitas mental.
Teori identitas, yaitu menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengakui aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Letak perbedaan jiwa dan badan hanya pada arti bukan referensi. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.
- Idealisme, ada hal yang tidak dapat diterangkan semata berdasarkan materi, seperti pengalaman, nilai dan makna. Itu hanya punya arti bila dihubungkan dengan sesuatu yang imaterial yaitu jiwa. Rene Descartes dengan cogito ergo sumnya menjadi peletak dasar dari idealisme.

Dualisme
Dualisme berpendapat bahwa badan dan jiwa adalah dua elemen yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya ada dalam pengertian dan objek.
Empat cabang dualisme, antara lain :
1) Interaksionisme, fokus pada hubungan timbal balik antara badan dan jiwa. Peristiwa mental bs menyebabkan peristiwa badani dan sebaliknya.
2) Okkasionalisme, memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa. Hubungan peristiwa mental dan fisik bisa terjadi dengan campur tangan ilahi.
3) Paralelisme, sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pd jiwa manusia. Dalam diri manusia ada dua peristiwa yang berjalan seiring yaitu peristiwa mental dan fisik, namun satu tidak jadi sumber bagi lainnya.
4) Epifenomenalisme, melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

Badan Manusia
Badan adalah elemen mendasar dlm membentuk pribadi manusia.
Pandangan tradisional, badan=kumpulan berbagai entitas material yang membentuk makluk.
Mekanisme gerakan badan bersifat mekanistik. Pandangan ini tidak memberikan pandangan utuh tentang manusia. Badan harus dimengerti melebihi dimensi fisik. Badan menyangkut keakuan. Membicarakan tubuh adalah membicarakan diri (Gabriel Marcel).
Hakekat badan bukan pertama-tama terletak pd dimensi materialnya, tapi dlm seluruh aktivitas entitas yg terjadi dlm badan: tertawa, menangis, berjalan, lari, duduk, dll.

Jiwa Manusia
Badan manusia tdk memiliki apa-apa tanpa jiwa. Tidak ada keakuan bila dilepaskan dari jiwa. Dlm pandangan tradisional jiwa – makluk halus, tdk bs ditangkap indera. Konsep ini menempatkan jiwa di luar hakekat manusia. Ini ditolak. Jiwa harus dipahami sbg kompleksitas kegiatan mental manusia. Jiwa menyadarkan manusia siapa dirinya.
James P. Pratt menunjuk ada empat kemampuan dasar jiwa manusia. Pertama, menghasilkan kualitas penginderaan. Kedua, Mampu menghasilkan makna yg berasal dr pengeinderaan khusus. Ketiga, mampu memberi tanggapan thdp hasil penginderaan. Empat, memberi tanggapan pd proses yg terjadi dlm pikiran demi kebaikan.
Agustinus: manusia hanya bs melakukan penilaian thdp tindakannya krn dorongan dr jiwa. Jiwa mendorong manusia utk melakukan hukum-hukum moral yg diketahui. Praktek moral sehari-hari adalah tanda berfungsinya jiwa dlm diri seseorg. Kemampuan jiwa menunjukkan bhw kegiatan manusia bukan mekanistik.

Dosen Pengajar :
Bapak Dr. Raja Oloan Tumanggor

Sumber :
Materi Kuliah Pertemuan VII


Day 6 : Filsafat Manusia (Pengantar)

Apa itu filsafat manusia?

- Bagian filsafat yang mengupas apa arti manusia/menyoroti hakikat atau esensi manusia. 
- Memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia.
- Hasrat untuk tahu siapa dan apakah manusia.

Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.

Apa perlunya mempelajari filsafat manusia?

Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”.
Manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Boleh saja tidak harus tahu segala hal, tapi sekurang-kurangnya harus mengenal dan mengerti diri sendiri secara mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.

Beberapa filsuf yang membahas Filsafat Manusia, antara lain :
- Plato
Aristoteles
- —Merleau-Ponty
—- Paul Ricoeur
—- Martin Heidegger
—- Soren Kierkegaard
—- Emmanuel Levinas
—- Gabriel Marcel
—- Jacques Lacan
—- Jacques Derrida
- dll.

Metode Filsafat Manusia
a. Refleksi
b. Analisa transendental
c. Sintesa
d. Ekstensif
e. Intensif
f. Kritis

Objek Filsafat Manusia
Objek material: manusia
- Objek formal: esensi manusia, strukturnya yang fundamental
- Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir, bukan penginderaan.

Max Scheler dan Heidegger


Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya.

A.Heschel dalam "Who is man?", Stanford University Press, 1965

Filsafat mempunyai perhatian terhadap manusia dalam totalitasnya, bukan dalam aspek ini atau itu. setiap ilmu terspesialisasi (antropologi, linguistik, fisiologi, kedokteran, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik), betapapun kerasnya usaha mereka, mereka tetap membatasi totalitas dari individu dengan memandangnya dari segi salah satu fungsi, atau dari dorongan tertentu. Pengetahuan kita tentang manusia terpecah-pecah: kerapkali kita menggantikan keseluruhan dengan salah satu bagian. Kita berusaha menghindari kesalahan itu.

Dosen Pengajar :
Bapak Bonar Hutapea, M.Si Psi

Sumber :
Materi Kuliah Pertemuan VI

Selasa, 23 September 2014
S

Rabu, 24 September 2014

Day 5 : Kesesatan Pemikiran (Fallacia)

Fallacia
Fallacia adalah kesalahan pemikiran dalam logika, bukan kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat.

Klasifikasi:
1. Kesesatan Formal: pelanggaran terhadap kaidah logika.
Misalnya:
Semua penodong berwajah seram. Semua pengamen berwajah seram. Jadi semua pengamen adalah penodong.
Padahal, tidak semua penodong dan pengamen berwajah seram.
Logika diatas juga melanggar kaidah silogisme, dimana kedua premis tersebut bersifat umum. Seharusnya, salah satu premis bersifat umum(semua), dan yang lainnya harus bersifat partikular(ada, sebagian, beberapa).
2Kesesatan Informal: menyangkut kesesatan dalam bahasa.
Misalnya : Kesesatan Diksi.
Contoh :
• Penempatan kata depan yang keliru: Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan.
• Mengacau posisi subjek atau predikat: Karena tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.
(Seolah-olah, yang tidak mengerjakan PR adalah guru.)
• Ungkapan yang keliru: Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.
• Amfiboli, yaitu sesat karena struktur kalimat bercabang : Anto Anak Bu Lasma yang hilang ingatan lari dari rumah.
• Kesesatan aksen/prosodi, yaitu sesat karena penekanan yang salah dalam pembicaraan : Ada aturanAnda tdk boleh ganggu anak tetangga.' Nah, Pak Budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh mengganggu anaknya.
• Kesesatan bentuk pembicaraan, yaitu sesat karena orang menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain : Berpakaian artinya memakai pakaian. Bersepeda artinya memakai sepeda. Maka, beristeri artinya memakai isteri.
• Kesesatan aksiden, yaitu yang aksidental dikacaukan dengan hal yang hakiki : Sawo matang adalah warna. Org Indonesia itu sawo matang. Maka, Org Indonesia itu adalah warna.
• Kesesatan karena alasan yang salah: Konklusi ditarik dari premis yang tak relevan.

Kesesatan Presumsi
a. Kesesatan karena pernyataan mengundang pertanyaan(petitio principii).
b. Kesesatan karena menghindari persoalan, antara lain :
1. Argumentum ad hominem: Jangan percaya omongannya karena ia bekas narapidana.
2. Argumentum ad populum: Anda lihat banyak ketidakadilan dan korupsi, maka Partai Nasdem adalah partai masa depan kita.
3. Argumentum ad misericordiam: Seorang terdakwa meminta keringanan hukuman karena mengaku punya banyak tanggungan.
4. Argumentum ad baculum: Karena beda pendapat, suka meneror orang lain.
5. Argumentum ad auctoritatem: Mengutip pendapat Freud mengenai psikoanalisa.
6. Argumentum ad ignorantiam: Bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada.
7. Argumen utk keuntungan seseorang: Seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi mau dijadikan isteri.
8. Non causa pro causa: Orang sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia menganggap itu sebagai penyebabnya.
c. Kesesatan melalui retorika, antara lain :
• Eufemisme/disfemisme: Pembangkang yang dianggap benar disebut reformator. Bila tidak disenangai maka disebut anggota pemberontak.
• Penjelasan retorik: Dia tidak lulus karena tidak teliti mengerjakan  soal.
• Stereotipe: Orang Jawa penyabar. Orang Batak suka menyanyi.
• Innuendo: Saya tidak mengatakan makanan tidak enak, tapi mau mengatakan lukisan itu bagus.
• Loading question: Apakah Anda masih tetap merokok?
• Weaseler: Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu memperlancar pencernaan.
• Downplay: Jangan anggap serius omongannya karena dia hanya buruh bangunan.
• Lelucon/sindiran.
• Hiperbola: membesarbesarkan.
• Pengandaian bukti: studi menunjukkan.
• Dilema semu: Tamu yang menolak kopi, langsung disuguhi sirup.

Dosen Pengajar :
Bapak Dr. Raja Oloan Tumanggor

Sumber :
Materi Kuliah Pertemuan VI

Senin, 22 September 2014
c

1. 

Day 6 : Etika dan Moral

Etika dan Moral
Etika dan Moral
Etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ethos(tunggal) yang artinya adat kebiasaan, adat istiadat, dan akhlak yang baik.
Jadi, Etika adalah ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.

Sedangkan moral berasal dari bahasa Latin, yaitu Mos(tunggal) atau Moris(jamak) yang artinya kebiasaan.
Terdapat 2 obyek dari etika, yaitu :
-  Obyek Material
Suatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran, suatu hal yang diselidiki, atau suatu hal yang dipelajari. Objek material bisa bersifat konkret atau abstrak.
- Obyek Formal
Cara memandang atau meninjau yang dilakukan seorang peneliti/ ilmuwan terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya.

Etika dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Etika Perangai
Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku.
Contoh: berbusana adat, pergaulan muda-mudi, perkawinan semenda, upacara adat.
2. Etika Moral
Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.
Contoh: berkata dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tua atau guru, membela kebenaran dan keadilan, menyantuni anak yatim-piatu.

Berdasarkan kajian ilmu, etika dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2. Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

Sistematika Etika
1. De Vos (1987)
ETIKA:
•Etika Deskriptif
  1. Sejarah Kesusilaan
  2. Fenomenologi Kesusilaan
•Etika Normatif

2K. Bertens (1993):
ETIKA:
•Etika Deskriptif
•Etika Normatif
  1. Etika Umum
  2. Etika Khusus
•Metaetika

3. Franz Magnis-Suseno (1991)
ETIKA:
•Etika Umum
•Etika Khusus
  - Etika Individividual
  - Etika Sosial:
              - Sikap terhadap sesama
              - Etika keluarga
              - Etika profesi:  -biomedis
                                        - bisnis
                                        - hukum
                                        - ilmu pengetahuan
                                        - dll
               - Etika politik
               - Etika lingkungan hidup
               - Kritik ideologi-ideologi

Etika Profesi
Etika Profesi adalah etika sosial yg menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.

Ciri-cirinya :
-Adanya pengetahuan khusus
Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
-Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi.
Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
-Mengabdi pada kepentingan masyarakat.
Artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
-Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. 
Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untukmenjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
-Menjadi anggota dari suatu profesi.

Prinsip-prinsip etika profesi :
1. Tanggung jawab
•Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
•Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan.
     Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Otonomi.
     Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

Kode Etik
Kode etik adalah norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.
Tujuan kode etik :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.

Aliran dalam Etika
1. Eudemonisme
2. Hedonisme
3. Egoisme
4. Utilitarianisme
5. Deontologis
6. Etika Situasi

Etika, Moral dan Etiket

Perbedaan Moral dan Etika
Sumber : http://gabrielamarcelina.files.wordpress.com/2012/03/capture.png










Perbedaan Etika dan Etiket
Sumber : Materi Kuliah Pertemuan VI (ETIKA DAN MORAL.PPT)

















Dosen Pengajar :
Bapak Carolus Suharyanto, Lic.Theol.

Sumber :
Materi Kuliah Pertemuan VI

Selasa, 23 September 2014