Selasa, 07 Oktober 2014

Day 11: Filsafat Psikologi

Filsafat adalah hasil pemikiran manusia yang mencari sesuatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dalam penyelidikannya, filsafat memang bertentangan dengan yang dialami manusia, karena tak ada pengetahuan jika tidak bersentuhan lebih dahulu dengan panca indera, sedangkan ilmu yang hendak mempelajari hasil penginderaaan itu tidak mungkin mengambil keputusan dengan menjalankan pikiran, tanpa menggunakan dalil dan hukum pikiran yang tidak mungkin dialaminya. Bahkan pikiran manusia itu ada serta mampu mencapai bagaimana budi manusia dapat mencapai kebenaran itu.

Sebaliknya, filsafat juga membutuhkan data dari ilmu. Jika, ahli filsafat manusia akan menyelidiki manusia serta hendak menentukan apakah manusia itu, ia memang harus mengetahui gejala tindakan manusia terlebih dahulu. Dalam dengan hasil penyelidikannya. Kesimpulan filsafat tentang kemanusiaan akan sangat tidak imbang dan mungkin jauh dari kebenaran jika tidak menghiraukan hasil dari psikologi (Poedjawijatna, 1991). 

Dalam berbagai ilmiah penelitian disebutkan, sebelum menjadi ilmu yang berdiri sendiri, psikologi memiliki pondasi yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafati yang sampai sekarang masih terlihat pengaruhnya. Di dalam ilmu kedokteran, psikologi menjelaskan segala sesuatu yang terfikir dan terasa oleh organ-organ jasmani. sedangkan dalam filsafat adalah sebagai pemecah masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan.

Bruno, seperti dikutip Syah (1995:8), membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian yang pada dasarnya saling berhubungan. Pertama, psikologi merupakan ilmu pengetahuan tentang “roh’. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang “kehidupan mental’, Ketiga psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku”.

Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) beranggapan bahwa kesadaran manusia berhubungan dengan rohnya. Oleh karena itu, studi mengenai kesadaran dan proses mental manusia merupakan bagian dari studi tentang roh

Sumber :
Kapita selekta KBK Filsafat

Senin, 6 Oktober 2014

Day 10: Eksistensialisme

Apa itu Eksistensialisme?
}Aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya yang khas di tengah makhluk lainnya.
}Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi.
}Etimologis: ex=keluarsistentia (sistere)=berdiriManusia bereksistensi = manusia baru menemukan diri sbg aku dengan keluar dari dirinya.
}Pusat diriku terletak di luar dirikuIa menemukan pribadinya dengan seolah2 keluar dari dirinya sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang diluar dirinya.
}Hanya manusialah bereksistensiEksistensi tidak bisa disamakan dengan ‘berada’. Pohonanjing beradatapi tidak berseksistensi.
}Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuantapi lebih merupakan gaya berfilsafat.
}Beberapa tokoh filsafat yang menganut gaya eksistensialismeantara lain: Kierkegaard, Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre, dll.
}Sulit menyeragamkan defenisi mengenai eksistensialismekarena adanya perbedaan pandangan mengenai eksistensi itu sendiri.
}Namun satu hal yang samafilsafat harus bertitik tolak pada manusia konkritmanusia sebagai eksistensimaka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.

Ciri-ciri Eksistensialisme
Motif pokok adalah eksistensicara manusia beradaHanya manusia bereksistensi.
Bereksistensi harus diartikan secara dinamisBereksistensi berarti menciptakan diri secara aktifberbuatmenjadimerencanakan.
Manusia dipandang terbukabelum selesaiManusia terikat pada dunia sekitarnyakhususnya pada sesamanya.
Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.


•Soren Aabye Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark 15 Mei 1813.
Belajar teologi di Univ. Kopenhagen, tapi tidak selesai. Saat 3 saudara, ayah dan ibunya meninggal, ia mengalami krisis. Sempat menjauh dari temannya dan agama.
•Sempat bertunangan dengan Regina Olsen, tapi tidak jadi menikah.
•1849 kembali lagi ke agamanya (Kristen).
•Meninggal 1855 sebagai orang religius dan dipandang sebagai tokoh di gerejanya.
•Dia dikenal sebagai bapa eksistensialisme, aliran filsafat yang berkembang 50 tahun setelah kematiannya.

Pokok-pokok Ajaran Kierkegaard
Ada tiga cara bereksistensi:
Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin kenikmatan, yang dikuasai oleh perasaan. Cara hidup yang amat bebas. Manusia harus memilih hidup terus dengan kenikmatan atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
Sikap etis: Sikap menerima kaidah-kaidah moral, suara hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan perkawinan. Manusia sudah mengakui kelemahannya, tapi belum melihat cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dari atas, maka ia loncat ke sikap hidup religius.
Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan, manusia sendirian. Karena manusia religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia. Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar adalah percaya model B: percaya bahwa Allah menerima wajah manusiawi dalam Yesus agar bisa berjumpa dengan Dia. Kita percaya model B, bila kita percaya bahwa kita yang lahir dalam waktu bisa menjadi abadi. Kita bisa menjadi seperti yang kita percayai.


}Lahir di Paris 1905
}1929 menjadi guru
}1931-36 dosen filsafat di Le Havre
}1941 menjadi tawanan perang
}1942-44 dosen Loycee Pasteur
}Banyak menulis karya filsafat dan sastra.
}Dipengaruhi oleh Husserl dan Heidegger.

Pemikiran Filsafat Sartre
}Sulit menjabarkan pemikiran filsafat Sartre secara singkat.
}Bagi Sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya kesadaran.
}Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya. Bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
}Asas pertama untuk memahami manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab.
}Dibedakanberada dalam diridanberada untuk diri
}Berada dalam diri = berada an sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Mis. meja itu meja, bukan kursi, bukan tempat tidur. Semua yang berada dalam diri ini tidak aktif. Mentaati prinsip it is what it is. Maka bagi Sartre segala yang berada dalam diri: memuakkan.
}Sementara berada untuk diri=berada yang dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia punya hubungan dengan keberadaannya. Bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada. Mis. Manusia bertanggungjawab bahwa ia pegawai, dosen. Benda tidak sadar bahwa dirinya ada, tapi manusia sadar bahwa dia berada. Pada manusia ada kesadaran.
}Biasanya kesadaran kita bukan kesadaran akan diri, melainkan kesadaran diri.
}Baru kalau kita secara refleksif menginsyafi cara kita mengarahkan diri pada objek, kesadaran kita diberi bentuk kesadaran akan diri.
}Tuhan tidak bisa dimintai tanggungjawab. Tuhan tidak terlibat dalam putusan yang diambil oleh manusia. Manusia adalah kebebasan, dan hanya sebagai makhluk yang bebas dia bertanggungjawab.
}Tanpa kebebasan eksistensi manusia menjadi absurd. Bila kebebasannya ditiadakan, maka manusia hanya sekedar esensi belaka.
}Beberapa kenyataan (kefaktaan) yang mengurangi penghanyatan kebebasan:
1)Tempat kita berada: situasi yang memberi struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
2)Masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
3)Lingkungan sekitar (Umwelt).
4)Kenyataan adanya sesama manusia dengan eksistensinya sendiri.
5)Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Walaupun kefaktaan ini melekat dalam eksistensi manusia, tapi kebebasan eksistensial tidak bisa dikurangi/ditiadakan.

Sumber:
Materi Kuliah Pertemuan X

Jumat, 3 Oktober 2014

Sabtu, 04 Oktober 2014

Day 9 : Field Trip To Setu Babakan

Hai! Kemarin saya, bersama dengan teman-teman fakultas psikologi angkatan tahun 2014, melakukan field trip atau kuliah terbuka ke Kampung Betawi. Kampung Betawi sendiri terletak di  Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta SelatanIndonesia dekat Depok. Perjalanan kami lakukan menggunakan bus, kurang lebih selama 1 jam.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh suasana cerah, walaupun sedikit panas karena terik matahari. Sebelum memulai melakukan wawancara, kami diberi sedikit pengarahan, mengenai pentas seni, tempat berkumpul, dan lain-lain.

Di sana, banyak macam makanan yang dijual. Mulai dari Bir Pletok, Kembang Goyang, Rambut Nenek, Mie Ayam, Ketoprak, hingga Es Potong, semuanya lengkap berjejer di sepanjang jalan.

Ini dia Bir Pletok... Eiitts, tenang ini tidak mengandung alkohol...

Dodol asli Betawi... Di belakangnya ada kembang goyang lhoo...
Ada yang jual umang-umang juga loh..
Oh iya, selain wisata kuliner, Kampung Betawi Si Pitung ini juga menyuguhkan wisata air, yaitu sepeda air. Sepeda airnya juga lucu, bentuknya bebek.


Oh ya, selama di sana, kami diminta untuk membuat sebuah jurnalisme, semacam liputan mengenai kehidupan di Kampung Betawi. Kami banyak mewawancarai pedagang maupun masyarakatnya. Banyak cerita dari mereka yang sangat inspiratif.
Seperti cerita dari Bapak Abdul Rojak, yang merupakan pedagang kerak telor. Ia telah menggeluti usahanya ini selama 12 tahun. Sungguh luar biasa. Selain tekun dan ulet, ia juga taat beribadah.
Di samping itu, kami juga sempat mewawancarai Bapak Merdi Sihombing. Beliau adalah seorang fashion designer Indonesia, yang terus aktif dalam berkarya. Ia telah berkeliling Indonesia untuk terus melestarikan dan memperkenalkan budaya Indonesia ke masyarakat. Ia berkata bahwa ia tidak mau mengikuti orang lain, tetapi ia ingin maju berbeda dari orang lain.
Terakhir, kami juga bertemu salah seorang tokoh masyarakat yang hebat. Beliau adalah Bapak Indra, yang sudah bekerja di sini sejak tahun 2001. Ia tahu betul perkembangan Kampung Betawi ini sejak baru diresmikan hingga seperti sekarang ini. Ia berpesan kepada kami, "Berjalanlah dari mimpi yang kuat", itulah bagaimana caranya ia bisa berhasil sampai sejauh ini.

Kamis, 02 Oktober 2014

Day 8: Manusia dan Kebebasan

Jiwa dan Kebebasan
¡Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya .
¡Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas .
¡Karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas.

¡Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme .

Òsejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan(Erich Fromm, The Fear of Freedom, 1960)
ÒArtinya, kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia

Pandangan Determinisme
}Determinisme: aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.
}Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik.
Determinisme fisik-biologis
Determinisme psikologis
Determinisme sosial
Determinisme teologis
}Kelemahan determinisme:
Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia (paradoks tidak meniadakan kebebasan juga keharusan, bukan?).
Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya.
Menafikan adanya tanggung jawab (tak relevan menuntut tanggung jawab atas kesalahan, bukan?).

Apa arti kebebasan?
}Pengertian umum/Kebebasan negatif/tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial.
}Pengertian khusus/kebebasan eksistensial
Penyempurnaan diri (ingat filsafat proses Whitehead?)
Kesanggupan memilih dan memutuskan
Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)

Jenis-jenis Kebebasan
§Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
§Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan
§Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial
-Melibatkan pertimbangan
-Mengedepankan nilai kebaikan
-Menghidupkan otonomi
-Menyertakan tanggung jawab

¢Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif
4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
-Menyertakan pengertian.
-Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial.
-Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat.
-Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial.

Dosen Pengajar :
Bapak Bonar Hutapea, M.si, Psi.

Sumber :
Materi Kuliah Pertemuan VIII

Jumat, 26 September 2014