Metafisika/Ontologi : Teologi, Antropologi, dan Kosmologi
Pembagian Filsafat Secara Umum
1. Epistemologi: Filsafat ilmu pengetahuan
2. Metafisika: Ontologi, Kosmologi, Teologi Metafisik, Antropologi
3. Logika: Ilmu berpikir kritis
4. Etika: Filsafat tingkah laku
5. Estetika: Filsafat keindahan
6. Aksiologi: Filsafat Nilai
7. Filsafat Khusus berbagai disiplin ilmu: Fils. Pendidikan, Fils. Agama, Fils. Hukum,
Fils. Ekonomi, dll.
Epistemologi
Yang pertama akan kita bahas adalah Epistemologi.
Yang pertama akan kita bahas adalah Epistemologi.
Epistemologi berasal dari kata Etimologis/Episteme (pengetahuan), logos (kata, pikiran, percakapan, ilmu) yang secara harafiah berarti kata, pikiran, percakapan tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan.
Pengetahuan memiliki subjek, yakni yang mengetahui, dan objek, yakni sesuatu yang diketahui. Pengetahuan bertautan erat dengan kebenaran.
Ada 3 jenis pengetahuan, antara lain:
•Pengetahuan biasa: pra-ilmiah, krn hasil pencerapan indrawi dan hasil pemikiran rasional yang masih harus diuji lebih lanjut kebenarannya.
•Pengetahuan ilmiah: diperoleh lewat metode ilmiah dan dpt dijamin kepastian kebenarannya.
•Pengetahuan filsafati: pemikiran resional yang didasarkan pada pemahaman dan pemikiran logis, analitis dan sistematis.
Berikut ini adalah sumber-sumber pengetahuan menurut beberapa tokoh:
•Plato,
Descartes, Spinoza, Leibniz:
akal budi atau rasio.
•Bacon, Hobbes,
Locke: pengalaman indrawi. Seluruh ide, konsep manusia berasal dari pengalaman, dan bersifat aposteriori.
•Immanuel Kant: Walau ide dan konsep apriori, ia bisa diaplikasikan bila ada pengalaman. Dkl: akal budi manusia bisa berfungsi bila dihubungkan dengan pengalaman.
Pengetahuan yang benar dan pasti menurut beberapa filsuf:
•Penganut skeptisisme: segala sesuatu dapat saja disangsikan kebenarannya.
àSokrates: “Apa yang saya ketahui ialah bahwa saya tidak mengetahui apa-apa”. Dkl: Tidak ada pengetahuan yang pasti.
•Phyrro (365-275SM), pencipta skeptisisme sistematis pertama: Kita harus senantiasa menyangsikan segala sesuatu, karena tidak ada yang benar-benar dapat diketahui dengan pasti.
•J. Wilkins (1614-1672) dan J. Glanvill (1636-1680): membedakan pengetahuan tertentu yang sempurna dan pengetahuan tertentu yang sudah pasti.
àTidak seorang manusia pun dapat meraih pengetahuan sempurna karena kemampuan manusia terbatas.
•David Hume (1711-1776): seorang ahli dasar pengetahuan empiris. Tidak ada generalisasi pengalaman yang dapat dibenarkan secara rasional. Generalisasi induktif bukan suatu proses berpikir, tapi sekedar berharap.
•Thomas Reid (1710-1796): Menyanggah presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kita yang sangat mendasar harus dibenarkan oleh argumen rasional falsafati. Bukti rasional falsafati yang dikehendaki Hume sesungguhnya tidak pantas dan tidak tepat, karena argumen rasional falsafati akan terus menerus memerlukan argumen rasional falsafati tak terbatas.
•Albert Camus (1913-1960): Manusia berusaha menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna. Baginya, tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif.
Kesahihan Pengetahuan
Teori mengenai kesahihan pengetahuan:
- Teori kesahihan koherensi: proposisi diakui sahih bila ia memiliki hubungan dengan gagasan proposisi sebelumnya yang sahih.
-Teori kesahihan korespondensi: pengetahuan sahih, bila proposisi bersesuaian dengan realitas, punya kaitan erat dengan kepastian indrawi.
- Teori kesahihan pragmatis: pengetahuan sahih bila proposisi punya kegunaan bagi yang memiliki pengetahuan.
- Teori kesahihan logikal: memiliki term berbeda, tapi berisi informasi sama dan tak perlu dibuktikan lagi, misalnya Siklus adalah lingkaran, lingkaran itu bulat. Lingkaran bulat tidak perlu dibuktikan kebenarannya.
•David Hume (1711-1776): seorang ahli dasar pengetahuan empiris. Tidak ada generalisasi pengalaman yang dapat dibenarkan secara rasional. Generalisasi induktif bukan suatu proses berpikir, tapi sekedar berharap.
•Thomas Reid (1710-1796): Menyanggah presuposisi sentral Hume yang mengatakan bahwa kepercayaan kita yang sangat mendasar harus dibenarkan oleh argumen rasional falsafati. Bukti rasional falsafati yang dikehendaki Hume sesungguhnya tidak pantas dan tidak tepat, karena argumen rasional falsafati akan terus menerus memerlukan argumen rasional falsafati tak terbatas.
•Albert Camus (1913-1960): Manusia berusaha menakar makna dari sesuatu yang pada hakekatnya tak bermakna. Baginya, tidak ada makna, tidak ada pengetahuan yang benar secara objektif.
Kesahihan Pengetahuan
Teori mengenai kesahihan pengetahuan:
- Teori kesahihan koherensi: proposisi diakui sahih bila ia memiliki hubungan dengan gagasan proposisi sebelumnya yang sahih.
-Teori kesahihan korespondensi: pengetahuan sahih, bila proposisi bersesuaian dengan realitas, punya kaitan erat dengan kepastian indrawi.
- Teori kesahihan pragmatis: pengetahuan sahih bila proposisi punya kegunaan bagi yang memiliki pengetahuan.
- Teori kesahihan logikal: memiliki term berbeda, tapi berisi informasi sama dan tak perlu dibuktikan lagi, misalnya Siklus adalah lingkaran, lingkaran itu bulat. Lingkaran bulat tidak perlu dibuktikan kebenarannya.
Metafisika
Metafisika berasal dari kata meta ta physika : sesudah fisika.
Istilah Andronikos dari Rhodes untuk 14 buku Aristoteles yang ditempatkan sesudah fisika(8 buku). Aristoteles sendiri menyebut filsafat pertama (metafisika) dan filsafat kedua (fisika).
Beragam arti metafisika:
-Upaya mengkarakterisasi realitas sebagai keseluruhan.
-Usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di balik realitas.
-(umum) Pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.
-Usaha menyelidiki apakah hakikat yg berada di balik realitas.
-(umum) Pembahasan falsafati yg komprehensif mengenai seluruh realitas atau segala sesuatu yang ada.
Pembagian metafisika: Metafisika umum (ontologi) dan metafisika khusus yg meliputi: kosmologi, teologi metafisik, fils. Antropologi.
Metafisika Umum/Ontologi
•Materialisme: menolak hal yg tak kelihatan. Ada yang sesungguhnya adalah yg keberadaannya semata-mata material. Realitas ialah alam kebendaan.
Leukippos dan Demokritos (460-370sM): realitas bukan hanya satu tapi banyak unsur yg tak dpt dibagi (atom).
Hobbes (1588-1679): seluruh realitas ialah materi yg tak bergantung pada pikiran kita.
L.A.Feuerbach (1804-1872): material adalah realitas sesungguhnya, manusia bagian dari alam meteri itu.
•Dualisme: tipe fundamental substansi adalah materi (secara fisis) dan mental (tidak kelihatan secara fisis). Harus dibedakan dengan monisme dan pluralisme (àteori tentang jumlah substansi).
Metafisika Khusus(Teologi Metafisik)
Macam-macam argumennya antara lain:
-Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
-Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
-Argumen moral:Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
-Argumen kosmologis: setiap akibat pasti punya sebab. Dunia (kosmos) adalah akibat. Penyebab adanya dunia ialah Tuhan.
-Argumen teleologis: Segala sesuatu ada tujuannya. Seluruh realitas tidak terjadi dengan sendirinya. Pengatur tujuan adalah Tuhan.
-Argumen moral:Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan buruk. Dasar dan sumber moralitas adalah Allah.
Berikut pandangan beberapa tokoh:
•Filsafat Stoa: panteistis – segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi/kekuatan alam. Spinoza melihat segala sesuatu yang ada adalah Allah. Skeptisisme sebaliknya meragukan adanya Allah.
•David Hume: Tidak ada bukti yang benar-benar sahih yang membuktikan Allah ada. Hume menolak Allah dan kebenaran agama.
•Feuerbach: religi tercipta oleh hakekat manusia sendiri, yakni egoisme.
•L. Feuerbach: religi tercipta oleh hakikat manusia sendiri. Allah adalah gambaran keinginan manusia. Allah tak lain dari apa yang diinginkan manusia.
•F. Nietzche: Konsep Allah dalam agama kristen adalah buruk, karena Allah dianggap sebagai Allah yang lemah. Ia berkesimpulan Allah itu sudah mati.
•Sigmund Freud: tiga fungsi Allah yang utama, yaitu a) penguasa alam, b) agama mendamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan, c) Allah menjaga agar ketentuan/peraturan budaya dilaksanakan.
Aksiologi
Aksiologi berasal dari kata Yunani, yaitu axios dan logos, axios berarti nilai dan logos berarti ilmu.
•Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi sebagai ilmu yang membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.
•Aksiologi adalah kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai, khususnya etika.
•Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.
•Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten mengenai perilaku etis.
Pengetahuan manusia itu cukup luas, sehingga pengetahuan itu diharapkan memiliki aspek tepat guna bagi pemiliknya. Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Bagaimana kaitan antara cara pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai. Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai. Nilai yang dimaksud dalam aksiologi dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Fakta dan Nilai
Nilai Moral
-Aksiolog membedakan “yang ada” dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
-Untuk menjelaskan lebih jauh apa nilai, perlu dibedakan dengan fakta. Fakta adalah sesuatu yang ada secara nyata, berlangsung begitu saja. Sementara nilai sebagai sesuatu yg berlaku, sesuatu yang memikat/mengimbau kita.
-Nilai berperanan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Mis. letusan gunung Merapi. Letusan bisa mempunyai nilai bagi seorang, tetapi tidak bagi yang lain.
-Fakta selalu mendahului nilai, fakta dahulu baru ada penilaian atas fakta tersebut.
-Ada 3 ciri-ciri nilai:
1) Nilai berkaitan dengan subjek,
2) Nilai tampil dalam konteks praktis,
3) Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek.
-Macam-macam nilai:
1) nilai ekonomis: bdk hukum ekonomi,
2) nilai estetis: saat menikmati lukisan, atau lagu yang indah.
Nilai Moral
-Setiap nilai memperoleh bobot moral bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral.
-Nilai dibagi dalam 4 kelompok:
1) Nilai yg menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yg perpadanan dengan makluk punya indra,
2) Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar, luhur dll,
3) Nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek) benar salah (tidak terikat pada permasalah indrawi),
4) Nilai Religius seperti yg kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut.
-Ciri-ciri nilai moral:
1) Berkaitan dengan tanggungjawab kita sebagai manusia. Nilai moral bisa diwujudkan dalam perbuatan yang sepenuhnya jadi tanggungjawab.
2) Berkaitan dengan hati nurani,
3) Mewajibkan, misalnya nilai moral mewajibkan secara absolut,
4) Bersifat formal: tidak ada nilai moral yang ‘murni’ terlepas dari nilai lain.
-Nilai moral memiliki kekuatan besar yang memaksa untuk menerimanya, walaupun bertentangan dengan hasrat kecenderungan dan kepentingan pribadi kita.
Pembagian Aksiologi
1. Etika ( Filsafat Etika )
- Etika mengkaji tentang prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap perilaku manusia.
2. Estetika ( Filsafat Keindahan )
- Estetika mengkaji tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian atas berbagai bentuk seni, yang mengkaji apa tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetika, bagaimana kita bisa menganal karya besar seni.
Objektivitas Dan Subjektivitas Nilai
Nilai itu terkadang bersifat objektif , namun kadang-kadang bersifat subjektif.
-Dikatakan obyektif apabila nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai.
-Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta.
-Nilai menjadi subjektif apabila subjek berperan dalam memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya.
-Dengan demikian, nilai subjektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Peranan Nilai
1. Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia.
2. Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam membentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya.
3. Menata hubungan sosial dalam masyarakat.
4. Memperkuat identitas kita sebagai manusia.
Dosen Pengajar :
Bapak Bonar Hutapea, M.Si., P.Si.
Bapak Mikha Agus Widianto, M.Pd.
Sumber :
Materi Kuliah Pertemuan II
Selasa, 16 September 2014
cukup lengkap blognya ... 85 buat kamuu yaa :D
BalasHapusmakasih cindy ;;) hihihi
Hapusenak di baca dan mudah di mengerti deeaaa hehe
BalasHapus90 ya hehe :))
Makasihh mitta ❤️ hehehe
Hapusudah bagus blognya cuma postnya sedikit kepotong doang hehe,80 ya..
BalasHapusMakasih niko :D iya nanti dibenerin lagi hahaha
Hapus